Telaah Riset Pak Warsito

Sore ini papa tetiba WA.
Kirain ngasih tambahan uang jajan :p
Ngga taunya minta update tentang isu yang lagi hangat-hangatnya diperbincangkan. Pak Warsito.

image

Kalau liat di berbagai timeline beberapa hari terakhir sih, kesimpulan saya:
Banyak banget yang dukung produk pak warsito. Karya anak bangsa. Kita harus support SDM lokal yang luar biasa, kan? Cinta produk dalam negeri.
Tapi di sisi lain, kok ya Kemenkes ngasih surat. “Klinik” Dr. Warsito disuruh  tutup warung.

Saya cuma seorang dokter umum yang sedang sekolah lagi. Jadi jelas ilmu saya tidak sehebat Pak Warsito. Akan tetapi saya senang menulis dan suka sekali belajar tentang bagaimana caranya meneliti.

Kalau seorang dokter ditanya pasien (atau dalam kasus ini papa dokternya :p), dokter harus yakin bahwa ia menjawab dengan bukti ilmiah. Bukan ilmu “kira-kira”. Praktik seperti ini yang sering kita sebut kedokteran berbasis bukti atau “evidence based medicine”.

Di mana kita mencari buktinya?
Kalau dulu sih dari buku. Tapi hari gini masih baca buku doang? Ya kalah update lah sama pasien. Jaket antikanker Pak Warsito kan ngga ada di buku.
Internet menyediakan segala informasi. Tapi mana informasi yang bisa kita percaya? Koran? Twitter? Facebook teman? Group WA? Pendapat profesor?
Bukan.

Seorang dokter wajib mencari bukti ilmiah. Bukti ilmiah ini ada tingkat kepercayaannya. Mulai dari yang paling rendah (seperti pendapat ahli) sampai berbagai jenis penelitian. Sebelum suatu obat atau jenis tindakan baru diterapkan untuk mengobati penyakit, ia harus terbukti efektif, melalui berbagai tahapan riset. Secara singkat, terapi ini harus terbukti efektif dalam penelitian lab, percobaan hewan, hingga pada ratusan hingga ribuan manusia. Dengan demikian, dokter tersebut yakin bahwa terapi tersebut memang benar aman dan efektif. Jadi, dokter sebaiknya tidak menganjurkan terapi berdasarkan “testimoni”.

Biasanya para dokter dan peneliti (tidak harus dokter), mempublikasikan hasil penelitiannya dalam jurnal. Oleh karena itu, saya yakin Pak Warsito ini pasti sudah mempublikasikan penelitiannya di jurnal terkait teknologi temuannya.

 

image

 

Kalau dari website C-techlabs (saya ngga tau ini milik Pak Warsito atau bukan). Di sana bisa dilihat bahwa teknologi yang Pak Warsito kembangkan adalah diagnosis dengan Electrical Capacitance Volume-Tomography (ECVT) dan terapi dengan Electrical Capacitive Cancer Treatment (ECCT).

Saya melakukan searching tentang hal tersebut. Inilah hasilnya 🙂

 

image
Hasil Penelusuran di Google Scholar

 

 

 

image
Hasil Penelusuran di Pubmed (search engine yang umum digunakan di kedokteran)

 

 

Dari Google Scholar, ada beberapa penelitian yang melibatkan Dr. Warsito. Dari Pubmed, hanya ada 1 penelitian mengenai ECVT yang melibatkan Dr. Warsito. Sayangnya, saya hanya mendapatkan 1 artikel yang dapat saya akses isi lengkapnya secara gratis. Berikut adalah artikel yang ditulis oleh Dr. Warsito.

image
Gambar 1

 

 

Tulisan pertama (Gambar 1) merupakan sebuah “Review”. Tulisan ini dimuat di Sensors, sebuah jurnal sains dan teknologi. Berdasarkan jurnal Sensors disebutkan:

 

  • Reviews: review manuscripts provide concise and precise updates on the latest progress made in a given area of research.

 

Jadi, tulisan di atas merupakan pemaparan kemajuan dari sebuah penelitian, bukan merupakan hasil akhir. Info lain yang didapat dari gambar pertama adalah ECVT merupakan suatu teknik imaging atau pencitraan alias bagaimana menampilkan gambar suatu benda. Dalam kedokteran, imaging ini erat kaitannya dengan radiologi untuk diagnosis suatu penyakit. Sepertinya, dasar inilah yang digunakan Dr. Warsito untuk mengembangkan ECVT sebagai teknik untuk mendiagnosis kanker. Akan tetapi, abstrak tulisan pertama ini, tidak sedikit pun menyebut penggunaannya dalam bidang kanker. Tapi ini masih bagian abstrak saja, lho. Mungkin di bagian lain akan disebut. Jadi, saya tidak boleh berkecil hati.

 

image
Gambar 2

 

 

 

Masih dari tulisan yang sama, di bagian Introduction atau Pendahuluan, ECVT dikembangkan dari teknologi ECT yang selama ini sudah digunakan untuk kepentingan industri, seperti mengukur konsentrasi minyak dan pneumatic conveyors. (guna ECVT untuk kanker belum kunjung disebut. Mungkin di bagian berikutnya)

 

 

image
Gambar 3

 

 

Saya lanjutkan membaca ke bagian isi (gambar 3). Dapat diketahui bahwa potensi penggunaan ECVT adalah untuk melihat gambaran gas, cairan, dan benda padat (kanker belum disebut juga di bagian isi). Tulisan ini penuh dengan istilah bidang teknik yang saya tidak mengerti.

 

image
Gambar 4

Nah, ini menarik. Saya pernah membaca bahwa penemuan Pak Warsito ini juga ingin dikembangkan oleh NASA. Wah, ternyata memang benar. NASA mengembangkan ECVT ini untuk pengukuran bahan bakar (measurement of fuel gauge) di tempat dengan gravitasi nol alias luar angkasa. Saya tadinya sempat bingung, apa hubungannya NASA dengan teknologi untuk pengobatan kanker. Ternyata memang tidak ada hubungannya. 😦

 

Setelah selesai membaca tulisan Pak Warsito yang saya temukan pertama kali ini, saya tidak menemukan satu pun kata kanker, maupun istilah medis. Karena sepertinya memang tulisan pertama ini merupakan tulisan tentang ECVT untuk bidang teknologi ya.

Saya beranjak ke Google Scholar. Saya cukup senang karena tulisan Pak Warsito berikutnya yang saya temukan, akhirnya berhubungan dengan medis (Gambar 5)

 

image
Gambar 5

Pak Warsito menulis bahwa ia melakukan penelitian mengenai penggunaan ECVT untuk mendeteksi aktivitas otak (belum ada kata kanker di sini). Dalam penelitian ini, Pak Warsito menggunakan phantom. Yang saya ketahui, phantom adalah boneka berbentuk manusia yang sering kami gunakan di dunia kedokteran. Pak Warsito meneliti dengan menggunakan phantom, bukan dengan sel makhluk hidup, ataupun hewan, ataupun manusia.

 

Tulisan Pak Warsito berikutnya membuat saya semakin berharap. Pak Warsito meneliti ECVT untuk deteksi kanker payudara! Wah! (Gambar 6)

 

image
Gambar 6

Akan tetapi, dalam penelitian kali ini, beliau melakukan penelitian deteksi kanker payudara pada (lagi-lagi) phantom alias boneka alias benda mati. Jaringan payudara dibuat dari paraffin (untuk jaringan payudara normal) dan karet (untuk jaringan payudara yang mengalami kanker). Penelitian ini (lagi-lagi) tidak menggunakan sel makhluk hidup ataupun hewan ataupun manusia. Tetapi saya tidak mau berputus asa. Saya pun membaca tulisan beliau berikutnya, mengenai deteksi tumor menggunakan ECVT (Gambar 7).

 

 

 

image
Gambar 7

Dari penelitian yang ditulis Pak Warsito di Gambar 7, kali ini beliau melibatkan subjek manusia! Sebanyak lima orang. Beliau membandingkan hasil deteksi kanker menggunakan ECVT dengan CT-scan dan MRI pada LIMA pasien. Beliau kemudian berkesimpulan bahwa ECVT merupakan peluang yang baik untuk alternatif teknik diagnosis kanker otak (atau tumor? ngomong-ngomong apa bedanya ya Pak?) tanpa radiasi. Kesimpulan itu diambil dari penelitian terhadap lima orang manusia. Sementara itu, penggunaan CT scan dan MRI melibatkan banyak sekali penelitian yang membuktikan keakuratannya dalam mendiagnosis, sebelum akhirnya ditetapkan sebagai pemeriksaan standard tumor otak.

Setelah melihat berbagai tulisan Pak Warsito, saya merasa Pak Warsito punya harapan besar untuk kemajuan teknologi ECVT ini. Saya pribadi akan mendukung hal tersebut, dengan beberapa “saran” (yang saya yakin Pak Warsito dapat memenuhinya):

 

  • Sebenarnya, mana yang Pak Warsito inginkan, ECVT atau ECCT? Untuk diagnosis, terapi, atau keduanya? Karena setahu saya, jalur atau mekanisme penelitiannya, nanti akan berbeda, Pak.
  • Kalau Pak Warsito ingin mengajukan alat diagnosis baru, silakan Bapak membuat penelitian tentang alat diagnosis baru ini. Silakan Bapak bandingkan dengan gold standard yang ada saat ini (misal, CT scan atau MRI). Sebenarnya Bapak sudah melakukan ini tadi. Akan tetapi, hanya LIMA orang? Bagaimana kalau hasil penelitian Bapak hanya sebuah KEBETULAN? Yakinkan kami para tenaga medis, bahwa hasil penelitian Bapak BUKAN KARENA KEBETULAN. Hal tersebut erat kaitannya dengan metode penelitian, termasuk besar sampel, Pak. Dalam penelitian, ada yang disebut dengan besar sampel minimal, Pak. Bapak bisa berkonsultasi dengan ahli statistik untuk urusan ini.
  • Kalau Pak Warsito ingin mengajukan terapi pengobatan baru (misal untuk kanker), silakan Bapak cari teori sebanyak-banyaknya yang mendukung tentang hal ini. Bagaimana mekanismenya sehingga ECCT ini bisa menghentikan pertumbuhan sel tumor atau kanker? Kalau teorinya sudah meyakinkan, baru Bapak melakukan penelitian di laboratorium. Kalau di laboratorium sudah terbukti efektif, baru dilanjutkan ke penelitian hewan. Baru kemudian ke manusia. Ada kok Pak langkah-langkahnya di Mbah Google.

 

 

  • Kalau Bapak sudah selesai penelitian, jangan lupa Bapak publikasikan di jurnal yang terkait dan terpercaya. Jadi, dokter-dokter di Indonesia, bahkan seluruh dunia, dapat mengetahui ilmu baru Bapak. Lebih bagus lagi, kalau bisa diterima di jurnal dengan impact factor tinggi (misalnya, Nature). Jagan di jurnal yang selama ini Bapak menjadi EDITOR-nya. (Sadarkah Anda, bahwa hampir semua jurnal yang beliau tulis, beliau publikasikan di IEEE?? Di mana beliau adalah EDITOR di jurnal tersebut menurut website c-techlabs.com)

 

KESIMPULAN?

Saya dukung riset Pak Warsito, bila dilakukan dengan metode penelitian yang benar. Jaket antikanker Pak Warsito, deteksi tumor ala Pak Warsito, akan ada tempatnya suatu saat nanti di bidang medis, bila Bapak berhasil membuktikan kebermanfaatannya melalui metode riset yang baik. Karena yakinlah bahwa ilmu kedokteran akan terus berkembang. Boleh jadi saat ini saya tidak mau mendiagnosis tumor otak menggunakan ECVT. Boleh jadi saat ini saya tidak menganjurkan penggunaan jaket antikanker. Akan tetapi, siapa yang tahu bahwa sepuluh tahun mendatang, ECVT atau ECCT Bapak Warsito sudah dipakai dalam guideline dunia?

Because medicine is the science of uncertainty and the art of probability

– William Osler.

Wallahu ‘alam bisshawab.

Hormat saya,

Sonia Hanifati

image

 

 

image

image

 

12 Replies to “Telaah Riset Pak Warsito”

  1. bagus banget tulisannya…. 👌👌👌😘😘
    hebat… selamat ya… smg ilmu dan umur Sonia berkah dan bermanfaat.. aamiin YRA

  2. sonia.. kenapa banyak yg nyangka lo cowo hahaha…

    dia ini dokter perempuan cantik & cerdas lho… it was an honour pernah bertemu & sempet mengajari sonia saat di RSCM..

    بارك الله
    Sonia

  3. om dokter umum, maaf mau tanya beberapa hal, mungkin om dokter umum tau..

    1. untuk profesi dokter, adakah dokter yg ‘kerjaanya’ riset hal2 seperti inovasi untuk dunia kesehatan? termasuk alkes atau obat2an gt? kalau ada, ‘jenis’ dokter apa ya? sy sebagai orang awam hanya tau dokter cuman ada spesialisasi saja.. yg suka riset kalau gak dalah spesialisasi mikrobiologi ya, tp yg diriset misal bakteri gt.

    2. nah, soal riset. sebenernya tanggung jawab siapa om dokter umum? pemerintah kah? swasta kah? universitas kah? lipi kah? atau siapa ya?

    hatur nuhun..
    semoga kita selalu diberikan kesehatan, terutama jauh2 dari kanker 🙂

    1. Hatur nuhun untuk pertanyaannya

      Dear Icha SF,
      1) Setiap dokter yang sudah lulus dokter umum, dibekali ilmu untuk melakukan riset dalam bidang kesehatan. Setahu saya, dokter umum pun diwajibkan melakukan minimal satu penelitian sebelum lulus (apakah berlaku di semua institusi pendidikan, saya kurang tahu)
      Berikut contoh jumlah penelitian yang ada pada salah satu institui pendidikan kedokteran, dapat dilihat di link berikut:

      http://research.fk.ui.ac.id/sisteminformasi/index.php/pengajuan-proposal/proposal-penelitian/daftar-pengajuan-proposal-penelitian?resetfilters=0&clearordering=0&clearfilters=0

      Mahasiswa, dokter umum atau spesialis dapat berperan sebagai peneliti. Profesi lain pun (ahli gizi, farmasi, ilmu biomed, teknik) saya rasa memiliki banyak peneliti.
      Akan tetapi, biasanya dokter meneliti sesuai keahlian masing-masing. Misalnya, dokter penyakit dalam akan meneliti penyakit yang menjadi kompetensinya, misalnya diabetes. Tidak menutup kemungkinan juga riset tersebut melibatkan berbagai “jenis” dokter (spesialis penyakit dalam bekerja sama dengan spesialis kulit, bedah)

      2. Definisi tanggung jawab di sini seperti apa?
      Penelitian dalam bidang kedokteran dipayungi oleh “pusat riset” atau research center, yang biasanya banyak terdapat di institusi pendidikan (universitas). Karena sebelum sebuah penelitian di bidang kedokteran berjalan, penelitian ini harus di-review kelayakannya oleh berbagai komite di institusi tersebut.
      Apa alasan penelitian ini dibuat? Berapa jumlah subjek yang diperlukan? Bagaimana menentukan keberhasilan penelitian ini? Di mana akan dilakukan penelitian? Apa keuntungan maupun bahaya yang dihadapi subjek penelitian ? Apakah penelitian ini sesuai dengan etika kedokteran?
      Peneliti harus tahu persis efek yang mungkin timbul pada penelitiannya.

      Sekian dari saya.
      Semoga Icha SF sehat selalu.

      ps: anyway, saya bukan om. mungkin lebih cocok jadi tante 🙂

      1. maaf tante dokter.. theme nya sangat maskulin, jadi saya pikir om dokter #salim. Kalau boleh tau, mungkin tante dokter tau nih.. bisa dikasih tau link tentang alkes yang mulai proses awal sampai produksi masal dan dipakai di RS di Indonesia (bahkan di pakai pula di RS di Luar Negeri) dilakukan di Indonesia dan dikerjakan oleh orang-orang indonesia? hatur nuhun 🙂

  4. Kebetulan sih saya punya akses ke ieee dan jurnal2 terkait, karena sy orang elektro. Meskipun beliau salah satu editor, di IEEE ada sistem review paper tersendiri, dimana paper yg ditulis seseorang, akan direview min 3 reviewer untuk kelas konferensi dan bahkan sampai 10-40 reviewer untuk sekelas jurnal/transaction paper (bisa makan waktu 1 tahun untuk publish). Jadi sangat kredibel
    Menurut saya dalam engineering proses, langkah pak warsito udah tepat, ngetestnya simulasi dulu, terus bikin prototype, kemudian uji ke dummy/phantom, dan sample kecil. Seterusnya bisa ke sample acak besar dan pake analysis statistik/probabilistik

    Btw kalo mas penulis mau baca paper lengkapnya, bisa kontak saya

    1. Terima kasih banyak atas masukan Anda. Saya senang sekali kalau boleh diberikan full papernya. Akan saya hub utk alamat email saya. (walaupun saya belum tentu mengerti :))
      Terima kasih juga sudah memberikan pandangan dari sisi engineering. Penjelasan yang Anda berikan ini penting untuk diketahui saya yang buta hal-hal terkait engineering.
      Dari penjelasan Anda, berarti ada “missing link” yang terjadi.
      1) uji acak sampel kecil ke uji acak sampel besar
      Saya setuju sekali dengan hal ini. Apakah uji ke sampel acak besar sudah dilakukan beliau sebelum sampai kepada aplikasi diagnosis/pengobatan terhadap 6000 pasien beliau yg terdaftar (menurut beliau pada sesi diskusi dengan kemenkes)? Karena mungkin saja ada paper beliau yang belum saya dapatkan

      2) saya pribadi, masih ada yang sedikit kurang “sreg” dari model phantom/dummy ke sampel acak kecil. Berhubung ini adalah ranah engineering, tentu saya banyak tidak tahunya.
      Apakah phantom/dummy harus berupa benda mati?
      Apakah tidak bisa dimulai dari sel normal dan sel tumor?
      Karena dalam satu sel makhluk hidup saja (bahkan dalam penelitian lab dengan kondisi ideal), banyak sekali variabilitas yang dapat terjadi.

      Mudah-mudahan beliau berkenan mengisi missing link ini demi kemajuan teknologi beliau

      1. Silahkan email ke saya mas, ditunggu..
        1. Ini jelas saya gatau, karena di paper jarang sekali orang menjelaskan tahapam development dari suatu grand-design.
        2. Penggunaan phantom saya rasa karena proses kemudahan. Tentu lebih mudah memakai phantom dari sel tumor hidup dari segi biaya, pemeliharaan, penyiapan lingkungan dll. Karena secara teknik, tentu lebih mudah menganalisis model-yg-disederhanakan daripada sampel-kompleks. Hal ini karena tujuannya untuk pengujian awal apakah ECVT bs dipakai untuk membedakan benda lembut (sel normal) dan benda keras (sel kanker), sorry klo contoh lembut-keras agak ngawur, karena secara kepadatan, itu yg saya tau.

        Mungkin itu sih, saya menyampaikan secara electrical engineering umum saja, karena saya sendiri konsentrasi nya bukan ke biomedical engineering

  5. Walaupun beliau sebagai editor, tetapi proses review dr IEEE biasanya sangat terjamin mutunya. Apalagi IEEE sudah sangat terkenal dan menjadi acuan peneliti dan engineer seluruh dunia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s