Ternyata bukan usus buntu ๐Ÿ˜‚

Teruntuk A’isha saat hari kemudian ๐Ÿ’Œ

Entah kapan. Mungkin ribuan hari lagi.

Assalamu’alaikum, A’isha.

Pada suatu hari (ciyee mari kita mulai macam dongeng-dongeng jaman dulu), mamak yang sehari-hari belajar di RSCM, merasa sakit perut. Kanan bawah. Adalah sekitar tiga hari. Meriang ga jelas. Mual-mual pula. Menurut teori dokter umum ala mamak: wah jangan-jangan appendicitis. Alias usus buntu. 

Gelisah aja bawaannya. Takut perforasi alias pecah usus buntunya. Repot urusannya kalau perforasi begitu. Buru-buru deh cek darah dan urin (di rscm tentunya, ngumpet2 sebelum poli mulai). Sekaligus konsul sama temen yang ppds bedah, mau minta tolong usg. Sembari dia bilang: jangan lupa test pack, ya!

Hasil darah dan urin udah keluar. Normal semua. Langsung beli test pack ekonomis (di rscm tentu). Izin sebentar dari poli ke kamar mandi poli yang minimalis (ukurannya).๐Ÿ˜

Berbekal pot urin yang minta sama perawat poli, baca kemasan gimana cara tes nya. Menunggu hasil. Satu menit berlalu. Tampak dua buah garis merah jambu samar-samar. Makin lama makin jelas. Alhamdulillah ternyata bukan usus buntu ๐Ÿ˜

Ga sabar langsung WA bapak danar selaku suami. Cuma dijawab singkat: Alhamdulillah ๐Ÿ˜‚ tapi tumben-tumbennya ga berapa lama langsung ditelepon. ๐Ÿ˜๐Ÿ˜

Moral of the story:

Memang SOP periksa cek darah, urin, dan test pack itu wajib untuk nyeri perut kanan bawah ๐Ÿคฃ๐Ÿคฃ

Telaah Riset Pak Warsito

Sore ini papa tetiba WA.
Kirain ngasih tambahan uang jajan :p
Ngga taunya minta update tentang isu yang lagi hangat-hangatnya diperbincangkan. Pak Warsito.

image

Kalau liat di berbagai timeline beberapa hari terakhir sih, kesimpulan saya:
Banyak banget yang dukung produk pak warsito. Karya anak bangsa. Kita harus support SDM lokal yang luar biasa, kan? Cinta produk dalam negeri.
Tapi di sisi lain, kok ya Kemenkes ngasih surat. “Klinik” Dr. Warsito disuruhย  tutup warung.

Saya cuma seorang dokter umum yang sedang sekolah lagi. Jadi jelas ilmu saya tidak sehebat Pak Warsito. Akan tetapi saya senang menulis dan suka sekali belajar tentang bagaimana caranya meneliti.

Kalau seorang dokter ditanya pasien (atau dalam kasus ini papa dokternya :p), dokter harus yakin bahwa ia menjawab dengan bukti ilmiah. Bukan ilmu “kira-kira”. Praktik seperti ini yang sering kita sebut kedokteran berbasis bukti atau “evidence based medicine”.

Di mana kita mencari buktinya?
Kalau dulu sih dari buku. Tapi hari gini masih baca buku doang? Ya kalah update lah sama pasien. Jaket antikanker Pak Warsito kan ngga ada di buku.
Internet menyediakan segala informasi. Tapi mana informasi yang bisa kita percaya? Koran? Twitter? Facebook teman? Group WA? Pendapat profesor?
Bukan.

Seorang dokter wajib mencari bukti ilmiah. Bukti ilmiah ini ada tingkat kepercayaannya. Mulai dari yang paling rendah (seperti pendapat ahli) sampai berbagai jenis penelitian. Sebelum suatu obat atau jenis tindakan baru diterapkan untuk mengobati penyakit, ia harus terbukti efektif, melalui berbagai tahapan riset. Secara singkat, terapi ini harus terbukti efektif dalam penelitian lab, percobaan hewan, hingga pada ratusan hingga ribuan manusia. Dengan demikian, dokter tersebut yakin bahwa terapi tersebut memang benar aman dan efektif. Jadi, dokter sebaiknya tidak menganjurkan terapi berdasarkan “testimoni”.

Biasanya para dokter dan peneliti (tidak harus dokter), mempublikasikan hasil penelitiannya dalam jurnal. Oleh karena itu, saya yakin Pak Warsito ini pasti sudah mempublikasikan penelitiannya di jurnal terkait teknologi temuannya.

 

image

 

Kalau dari website C-techlabs (saya ngga tau ini milik Pak Warsito atau bukan). Di sana bisa dilihat bahwa teknologi yang Pak Warsito kembangkan adalah diagnosis dengan Electrical Capacitance Volume-Tomographyย (ECVT) dan terapi dengan Electrical Capacitive Cancer Treatment (ECCT).

Saya melakukan searching tentang hal tersebut. Inilah hasilnya ๐Ÿ™‚

 

image
Hasil Penelusuran di Google Scholar

 

 

 

image
Hasil Penelusuran di Pubmed (search engine yang umum digunakan di kedokteran)

 

 

Dari Google Scholar, ada beberapa penelitian yang melibatkan Dr. Warsito. Dari Pubmed, hanya ada 1 penelitian mengenai ECVT yang melibatkan Dr. Warsito. Sayangnya, saya hanya mendapatkan 1 artikel yang dapat saya akses isi lengkapnya secara gratis. Berikut adalah artikel yang ditulis oleh Dr. Warsito.

image
Gambar 1

 

 

Tulisan pertama (Gambar 1) merupakan sebuah “Review”. Tulisan ini dimuat di Sensors, sebuah jurnal sains dan teknologi. Berdasarkan jurnal Sensors disebutkan:

 

  • Reviews: review manuscripts provide concise and precise updates on the latest progress made in a given area of research.

 

Jadi, tulisan di atas merupakan pemaparan kemajuan dari sebuah penelitian, bukan merupakan hasil akhir. Info lain yang didapat dari gambar pertama adalah ECVT merupakan suatu teknik imaging atau pencitraan alias bagaimana menampilkan gambar suatu benda. Dalam kedokteran, imaging ini erat kaitannya dengan radiologi untuk diagnosis suatu penyakit. Sepertinya, dasar inilah yang digunakan Dr. Warsito untuk mengembangkan ECVT sebagai teknik untuk mendiagnosis kanker. Akan tetapi, abstrak tulisan pertama ini, tidak sedikit pun menyebut penggunaannya dalam bidang kanker. Tapi ini masih bagian abstrak saja, lho. Mungkin di bagian lain akan disebut. Jadi, saya tidak boleh berkecil hati.

 

image
Gambar 2

 

 

 

Masih dari tulisan yang sama, di bagian Introduction atau Pendahuluan, ECVT dikembangkan dari teknologi ECT yang selama ini sudah digunakan untuk kepentingan industri, seperti mengukur konsentrasi minyak dan pneumatic conveyors. (guna ECVT untuk kanker belum kunjung disebut. Mungkin di bagian berikutnya)

 

 

image
Gambar 3

 

 

Saya lanjutkan membaca ke bagian isi (gambar 3). Dapat diketahui bahwa potensi penggunaan ECVT adalah untuk melihat gambaran gas, cairan, dan benda padat (kanker belum disebut juga di bagian isi). Tulisan ini penuh dengan istilah bidang teknik yang saya tidak mengerti.

 

image
Gambar 4

Nah, ini menarik. Saya pernah membaca bahwa penemuan Pak Warsito ini juga ingin dikembangkan oleh NASA. Wah, ternyata memang benar. NASA mengembangkan ECVT ini untuk pengukuran bahan bakar (measurement of fuel gauge) di tempat dengan gravitasi nol alias luar angkasa. Saya tadinya sempat bingung, apa hubungannya NASA dengan teknologi untuk pengobatan kanker. Ternyata memang tidak ada hubungannya. ๐Ÿ˜ฆ

 

Setelah selesai membaca tulisan Pak Warsito yang saya temukan pertama kali ini, saya tidak menemukan satu pun kata kanker, maupun istilah medis. Karena sepertinya memang tulisan pertama ini merupakan tulisan tentang ECVT untuk bidang teknologi ya.

Saya beranjak ke Google Scholar. Saya cukup senang karena tulisan Pak Warsito berikutnya yang saya temukan, akhirnya berhubungan dengan medis (Gambar 5)

 

image
Gambar 5

Pak Warsito menulis bahwa ia melakukan penelitian mengenai penggunaan ECVT untuk mendeteksi aktivitas otak (belum ada kata kanker di sini). Dalam penelitian ini, Pak Warsito menggunakan phantom. Yang saya ketahui, phantom adalah boneka berbentuk manusia yang sering kami gunakan di dunia kedokteran. Pak Warsito meneliti dengan menggunakan phantom, bukan dengan sel makhluk hidup, ataupun hewan, ataupun manusia.

 

Tulisan Pak Warsito berikutnya membuat saya semakin berharap. Pak Warsito meneliti ECVT untuk deteksi kanker payudara! Wah! (Gambar 6)

 

image
Gambar 6

Akan tetapi, dalam penelitian kali ini, beliau melakukan penelitian deteksi kanker payudara pada (lagi-lagi) phantom alias boneka alias benda mati. Jaringan payudara dibuat dari paraffin (untuk jaringan payudara normal) dan karet (untuk jaringan payudara yang mengalami kanker). Penelitian ini (lagi-lagi) tidak menggunakan sel makhluk hidup ataupun hewan ataupun manusia. Tetapi saya tidak mau berputus asa. Saya pun membaca tulisan beliau berikutnya, mengenai deteksi tumor menggunakan ECVT (Gambar 7).

 

 

 

image
Gambar 7

Dari penelitian yang ditulis Pak Warsito di Gambar 7, kali ini beliau melibatkan subjek manusia! Sebanyak lima orang. Beliau membandingkan hasil deteksi kanker menggunakan ECVT dengan CT-scan dan MRI pada LIMA pasien. Beliau kemudian berkesimpulan bahwa ECVT merupakan peluang yang baik untuk alternatif teknik diagnosis kankerย otak (atau tumor? ngomong-ngomong apa bedanya ya Pak?) tanpa radiasi. Kesimpulan itu diambil dari penelitian terhadap lima orang manusia. Sementara itu, penggunaan CT scan dan MRI melibatkan banyak sekali penelitian yang membuktikan keakuratannya dalam mendiagnosis, sebelum akhirnya ditetapkan sebagai pemeriksaan standard tumor otak.

Setelah melihat berbagai tulisan Pak Warsito, saya merasa Pak Warsito punya harapan besar untuk kemajuan teknologi ECVT ini. Saya pribadi akan mendukung hal tersebut, dengan beberapa “saran” (yang saya yakin Pak Warsito dapat memenuhinya):

 

  • Sebenarnya, mana yang Pak Warsito inginkan, ECVT atau ECCT? Untuk diagnosis, terapi, atau keduanya? Karena setahu saya, jalur atau mekanisme penelitiannya, nanti akan berbeda, Pak.
  • Kalau Pak Warsito ingin mengajukan alat diagnosis baru, silakan Bapak membuat penelitian tentang alat diagnosis baru ini. Silakan Bapak bandingkan dengan gold standard yang ada saat ini (misal, CT scan atau MRI). Sebenarnya Bapak sudah melakukan ini tadi. Akan tetapi, hanya LIMA orang? Bagaimana kalau hasil penelitian Bapak hanya sebuah KEBETULAN? Yakinkan kami para tenaga medis, bahwa hasil penelitian Bapak BUKAN KARENA KEBETULAN. Hal tersebut erat kaitannya dengan metode penelitian, termasuk besar sampel, Pak. Dalam penelitian, ada yang disebut dengan besar sampel minimal, Pak. Bapak bisa berkonsultasi dengan ahli statistik untuk urusan ini.
  • Kalau Pak Warsito ingin mengajukan terapi pengobatan baru (misal untuk kanker), silakan Bapak cari teori sebanyak-banyaknya yang mendukung tentang hal ini. Bagaimana mekanismenya sehingga ECCT ini bisa menghentikan pertumbuhan sel tumor atau kanker? Kalau teorinya sudah meyakinkan, baru Bapak melakukan penelitian di laboratorium. Kalau di laboratorium sudah terbukti efektif, baru dilanjutkan ke penelitian hewan. Baru kemudian ke manusia. Ada kok Pak langkah-langkahnya di Mbah Google.

 

 

  • Kalau Bapak sudah selesai penelitian, jangan lupa Bapak publikasikan di jurnal yang terkait dan terpercaya. Jadi, dokter-dokter di Indonesia, bahkan seluruh dunia, dapat mengetahui ilmu baru Bapak. Lebih bagus lagi, kalau bisa diterima di jurnal dengan impact factor tinggi (misalnya, Nature). Jagan di jurnal yang selama ini Bapak menjadi EDITOR-nya. (Sadarkah Anda, bahwa hampir semua jurnal yang beliau tulis, beliau publikasikan di IEEE?? Di mana beliau adalah EDITOR di jurnal tersebut menurut website c-techlabs.com)

 

KESIMPULAN?

Saya dukung riset Pak Warsito, bila dilakukan dengan metode penelitian yang benar. Jaket antikanker Pak Warsito, deteksi tumor ala Pak Warsito, akan ada tempatnya suatu saat nanti di bidang medis, bila Bapak berhasil membuktikan kebermanfaatannya melalui metode riset yang baik. Karena yakinlah bahwa ilmu kedokteran akan terus berkembang. Boleh jadi saat ini saya tidak mau mendiagnosis tumor otak menggunakan ECVT. Boleh jadi saat ini saya tidak menganjurkan penggunaan jaket antikanker. Akan tetapi, siapa yang tahu bahwa sepuluh tahun mendatang, ECVT atau ECCT Bapak Warsito sudah dipakai dalam guideline dunia?

Because medicine is the science of uncertainty and the art of probability

– William Osler.

Wallahu ‘alam bisshawab.

Hormat saya,

Sonia Hanifati

image

 

 

image

image

 

UNION DELI SCORES 9/10?

Long time no see. I could not keep up with blog lately. Too many things happened in between :p
This is just my excuse though.
So for several months I have been wandering around. I dont know. I just fell in love with culinary. So here I will share some for you ๐Ÿ˜‰

I visited UNION DELI with one of my bestfriend for an afternoon tea. Our brain needs a refreshment before some deadlines right? ๐Ÿ™‚

Surely we ordered the infamous RED VELVET PIE from this deli. Here it is!

image
Red Velvet Pie

This is unbelievably deeeeliiiiiciooouuss! I have never been fond of red velvet. BUT THIS IS AN EXCEPTION!!! 
The texture is a combination of cream with crunchies on top of that. I know that’s how a pie should be. But the taste is, I bet, it is beyond palatable for everyone. It is not too sweet, neither too sour. It is just perfectly balanced. The 50k you grabbed out of your pocket, is totally worthed this slice of pie!

My eyes (and tongue and stomach) was out of patience for our second order. OVOMALTINE PANNA COTTA.
By the time I visited, I’ve never seen its review. But yeah, the ovomaltine-hits struck me. So, yes I did order it.

image

And you know what? I have just realized that you do not need any review to taste it. The accident to taste this pannacotta, was a GIFT. The texture was puuurrrfect. Ovomaltine taste was not overwhelming. I cannot remember the exact price, but I think it is around 55k. Again I must give my salutation to UNION DELI

My overall rating for these dishes: 9/10!
The missing one point is a wish from me for any innovation UNION DELI will make in the future. Kkkkk~

Till we meet again!

UNION DELI
Central Department Store Ground Floor
Grand Indonesia, East Mall
Phone: (+6221) 23580476

Opens from 10am to 10pm

What I Learn Most In 2014

I lost a lot this year.ย  Literally. Lost as in failing to win, lost as in be deprived. The remaining question is whether losing is bad or good for you?

This is New-Year-Eve and I am writing (YES W-R-I-T-I-N-G) this short-post while fireworks are blasting upon my rooftop. I love how good they look but I am not a fan of their sounds. Another NYE has come. It means 2014 has to close its chapter. This particular year has been one of my best teachers in life. What I learn most is about LOSING. This two-o-one-four is my second year practicing medicine as medical doctor. I have encountered some losing with patients. Have you ever been losing your patient? If yes, I have to tell you that we may lose the patient, but we must gain a conscience from it. A conscience that someone’s life may seem just “a body” for us, but could be priceless-slash-irreplaceable figure for his/her spouse, children, or relatives. Take a deep look into the family’s eyes. Learn how to “break” their hearts by the bad news we’re telling them. Feel it. Then promise yourself (including me myself :D) that you will not easily give up and lose your patient. We will work hardest in EVERY patient we meet. For some time, I think that what I learn from losing a patient, may be applicable for losing others. We may lose something, but we have to, no i mean, WE MUST gain a value from that incident. We have to build our conscience. We learn to break our hearts with our just-now-clearly-seen mistakes or weaknesses. In the end, we promise ourselves to give our best in order not to lose that thing, again, in the future. Last question: is losing bad or good for you? Happy New Year! ๐Ÿ™‚